Ayat Hari Ini...

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Februari 2011

Sastra: Senandung Doa dan Cinta


Oleh: Muhammad Amrullah

Di Negeri seribu menara yang mempesona
                   Di Negeri yang Piramid berdiri kokoh di atasnya
    Di Negeri yang Musa A.S dan kaumnya pernah singgah di dalamnya
                Di Negeri yang menjadi saksi bisu di tenggelamkanya
                         Fir'aun dan   pengikutnya ke dalam samudra.

                                                 Oh Tuhan,,,
    Di Negeri yang pada saat ini sedang menjadi saksi bisu seorang hamba
                      yang sedang   memikul  beban duka dannestapa.
                         Oh Tuhan,,, alangkah sedihnya aku malam ini.

                                                 Oh,,,,Tuhan,,,,,,
                          Diantara gelap malam yang menyelimuti siang
      Diatas jalan yang penuh dengan debu-debu yang berserakan di mana-mana
          Di bawah langit  malam yang cerah tanpa bintang yang bersinar terang
               Di lorong kesunyian nan sepi yang terus menghantui langkah kaki
                   ku berjalan seorang diri dengan berlinang air mata cinta di pipi.


                          Langkahku gontai tundukan kepala tanpa daya
                      tunduk dengan sang cinta yang telah merengkuh jiwa.
                  Sesekali ku hadapkan wajah penuh duka nestapa ke angkasa.
               Di iringi percikan  air mata yang terus mengalir deras tanpa henti
     ku ungkap dari lubuk hati yang paling dalam kalimat Cinta dalam "Doa Cinta"


                Ya Allah ya Tuhanku yang maha pengasih lagi penyayang
          jika Engkau tanamkan benih-benih cinta dalam hatiku kepadanya
           maka tanamkan pula benih-benih cinta dalam hatinya kepadaku.

                                               Oh Tuhan,,,

             jangan pernah Engkau biarkan cintaku bertepuk sebelah tangan
              jadikanlah cinta diantara kami pengantar cinta abadi kepadaMu.
                       sesungguhya Engkau maha kuasa atas sega-galanya.

                                                  Oh Tuhan,,,
      Ketika Engkau telah berkehendak, siapa yang bisa menghadang langkahMu?
                     Diriku dan dirinya di bawah kekuasaanMu sepenuhya.

                                                    Oh Tuhan,,,

                   maafkanlah atas kebodohan dan kelemahan hambaMu ini
                    Hamba yang telah Engkau ciptaka dengan kelemahanya.
                        Engkau telah berfirman dalam Al-Qur'an suci Mu
                           "Manusia di ciptakan dalam keadaan lemah"

                                                     Oh Tuhan,,,

            Hamba yang telah Engkau ciptakan dengan hati yang di milikinya
     yang denganya ia bisa mencintai dan membenci, bergembira ria dan berduka
         nestapa.Ku akui diriku hanyalah hamba yang lemah dan bodoh, maka
                  kuatkanlah hambamu ini di kala badai cinta sedang melanda.


                                                      Oh Tuhan,,,
       Semoga  rahmat dan salam selalu tercucur curahkan atas baginda
             Nabi Muhammad Shallallhu 'alihi wasallam yang Enkau cintai
                            Dan segala puji hanya milikmu semata
                                    Aaaaaamiien ya Rabbal Alamin



                    ANDAIKAN SAJA CINTA INI TAK PERNAH TERJADI
                      TAKAN ADA AIR MATA YANG MEMBASAHI PIPI
                                              YA ALLAH YA RABB,,,

Selasa, 15 Februari 2011

Sastra: Adakah Pijakan?

Oleh: Fahmi Hasan

Butiran serbuk kayu lapuk getarkan jagat raya,
Ketika keheningan tancapkan dinginya
Jiwa jiwa terlena nyanyian setan!
Di mana aku?

Lengkingan hantu malam berkejaran dengan Kalam
Tangis para pendosa dan peluh desahan penjaja laknat
Di mana aku?

Pasukan petang berganti barisan
Bacaan fajar terkuak, janji telaga surga terpenuhi
Di mana aku?

Takjub pandangi lautan manusia berbagai wajah
Bentuk tubuh tak perduli nafsu setan dunia
Di mana aku?

Haluan kanan kiri keringat kehidupan,
Hadapan jembatan angin, adakah pijakan?

Sastra: Kuharap SenyumMu jika kau ada....

oleh: Fahmi Hasan

Apakah salah jika berlebih cintaku padamu?
Hinakah jika kusyukuri kehadiranmu?
Ku tak perduli orang yang obrak abrik tatanan kehidupan,
Dengan alasan 'Menyadarkan manusia yang sesat'
Lalu apakah aku termasuk orang yang sesat?

Malu jika ku berhadap keledai di jalanan
ku tak menjamin shalawatku dan cintaku menyamai miliknya,
Sesungguhnya Kau lah cahaya dalam diri
Maka tanpa kehadiranMu, takkan kunikmati cahaya ini.
Masihkah aku termasuk orang yang sesat?

Goyangan rerumputan bershalawat atasMu
Guguran daun memberi salam kepadaMu,
Terdengar di seluruh penjuru NamaMu
Bergetar jiwaku mencintaiMu....

Akupun tak pasti,
Jika kau ternyata melihat keadaan umatMu sekarang,
SenyumanMu kah yang ku dapat?
Atau wajahMu kan berpaling?

Pantaskah ku berharap kepadaMu,
Di saat tidak ada lagi harapan selainMu,
Ketika Tuhan marah sejadinya,
Akankah ku dapatkan syafaatMu?

Ya Allah, Bershalawatlah padaNya!
Pada setiap detik yang terlewat,
Pada setiap tetes air mengalir,
Pada setiap hembusan angin,
Pada setiap perputaran langit dan bumi......

Cairo, 12 Rabiul Awwal 2011

Selasa, 25 Januari 2011

Sastra : Istiqomahnya mereka

oleh: Fahmi Hasan

Bisikan selalu terdengar dalam keheningan,
Alangkah bahagianya ketika bisikan itu datang,
Tapi dahaga ini selalu iringi kebahagiaan.
Di mana tersembunyi telaga kautsar?
Adakah tetesan airnya sejukkan dunia abnormal ini?
Mungkinkah aku dapat meneguknya?
Di tengah lautan makhluk-makhluk bermata merah menyeramkan.
Hanya Engkau lah yang bisa mengerti, apakah Kau juga memaklumi?
Ambigu di hati terombang ambing badai.
Bukanlah aku seonggok kerikil dalam ikatan aspal jalan raya,
Jutaan orangpun takkan mengetahui selain Engkau.
Daun berguguran atas namaMu
Embun basahi kaca ikhlas karenaMu
Sampai buruknya suara keledai tetap memanggilMu
Tak pantas aku disejajarkan dengan mereka,
Bahkan akupun ragu,
Jika dzikirku sebanding dengan istiqomah mereka.

Jumat, 31 Desember 2010

Sastra : Jika Aku Nanti Benar-Benar Pergi

Oleh : Rijal L Fikri


Jika aku nanti benar-benar pergi, biarlah  air matamu mengaliri riak-riak air, aku berdo’a semoga  sampai pada sungai Nil, tempat dimana aku menantimu dan membasuh rinduku yang membuncah, sebab disanalah aku senantiasa berbisik pada musim yang renta, memunguti sisa-sisa pertemuan kita yang tersembunyi dan lucu, menghadirkan tubuhmu di hatiku lewat lembar-lembar mushaf yang kubaca untukmu. Dan pada anginlah kutitipkan keutuhan cinta kita, menebar harum dan beri’tikaf pada semesta.

Jika nanti aku benar-benar pergi, biarkan bibirmu membisikkan cinta dan membahasakan doa, kan kuabadikan di langit yang berbeda, kutabuh jadi irama padang pasir pengiring zikirku di renyuh malam, di suatu tempat orkestra sunyi, opera suci dan syair-syair sufi disenandungkan. Tapi tanpamu sayang, Mesir bagiku adalah kemarau. Separuh jiwaku tertinggal pada keindahan wujudmu.

Jika nanti aku benar-benar pergi,  simpanlah sajak yang pernah kutulis, biarkan ia berbicara pada malammu yang gelisah, biarkan ia memandangmu di kamar tidurmu yang sunyi, biarkan ia membelai rambutmu hingga kau pulas dengan mimpi-mimpi yang indah, biarkan ia mengenang saat kau janjikan aku dan aku janjikan engkau.

Sayang, jangan kau tanyakan lagi tentang arti kesetiaan, biarkan ia mengalir, menyelipkan senja di jalan darah, nadi dan aorta sampai tuhan menyuratiku untuk pulang memilikimu seluruh.
Prenduan, 28 januari 2009

Selasa, 09 November 2010

Kebun Perasaan Tak Bernama

Oleh: Romal M. Ahda

ada sajak tak berujung dalam sorot matamu

syair tak berqafiyah di

rajuk manjamu

bait-bait tak berbahar dari keibuan yang kau hadiahkan

oh, maulana Jalaluddin Rumi yg mulia,

duhai tuan pujangga Antarah bin Hillizah,

adakah sajak tuan-tuan kuasa

melukiskan kebun perasaan yang tak bernama?

duhai dengan bahasa apa manusia mampu menggambarkannya?



Taman 10 Ramadhan, 8 november 2008, malam berhiasakan burung besi

Rabu, 03 November 2010

Bismillah!!!

Sapalah aku jika ku lupa
Palingkan wajahmu jika ku sombong
Tampar wajahku jika kau tersakiti

Bukanlah mentari senja tinggalkan bayangan
Tapi gelaplah yang terbitkan terang
Tak ada samar antara barat dan timur
Matahari pun terbiasa jelajahi setiap senti kehidupan

Kembalilah kepada malam dengan gelapnya kehidupan malam
Ia pun butuhkan bintang lengkapi indahnya
Cukuplah purnama berikan sinar sucinya
Walau bagaimanapun, malamlah sebabkan siang

Bergetar jiwa sebutkan nama
Panglima telah bakar perahunya
Bergerak!
Tak ada jalan selain hadang!
Derap kuda semangat juang, Hancurkan!

Layar telah terpasang
Lautan badai menantang
Terbesit ketakutan dalam dada
Pacu! Hantam badai!
Bismillah!!!

Cairo, 3 November 2010